Bruuuuuuuummmm........!!!!
Suara knalpot dan kepulan asap pekakan kuping dan pedihkan mata siapapun yang menonton balapan itu. Malam ini sangat ramai. Ada sekitar seratus kepala yang hadir untuk menonton balapan. Terdiri dari empat puluh orang laki-laki, tiga puluh orang perempuan, dua puluh orang banci, sepuluh emas, lima perak, dan lima perunggu. Kayak olimpiade ya? Hehee..
Terlihat Ucok dan Usro sedang serius memperhatikan para pembalap yang hampir mencapai garis finish. Ucok menganga menyaksikan duel yang terjadi di sirkuit sampai tidak sadar kalau mulutnya dikerubutin lalat. Breeeeennnng.......!! finish..!! Semuanya teriak dan berjingkrak senang. Ada juga yang murung karena jagoannya kalah.
“gue bilang juga kan! Hahaa.... jagoan gue itu!”, Ucok menerima sejumlah uang yang diserahkan Usro dengan sangat berat hati. Dicky yang tidur di pojokan warung jamu mulai sadar dari mimpinya dia celingukan mencari kedua teman ajaibnya yang entah dimana. Ucok dan Usro menghampiri Dicky yang masih mengucek-ucek mata untuk memastikan matanya masih ada di tempatnya.
“Siapa yang menang?”, tanya Dicky penasaran. “Gue donk! Hahaa....”, jawab Ucok mantap. “Bukan, maksud gue pembalapnya, siapa?”, tanya Dicky sedikit jengkel. “Oh, Rocky.. Itu loh yang pake yoshimura USA. Edan emank!”, jelas Usro sambil mengelus-elus dompetnya yang tipis berharap keluar jin dan mengabulkan permintaannya untuk membalas Ucok. Dicky mengangguk penuh arti. Merekapun memutuskan untuk pulang tapi mampir dulu untuk ditraktir Ucok makan pangsit di tikungan cisitu.
Pagi yang cerah.
Paling tidak itu menurut Dicky, padahal sudah jam sebelas siang. Nenek-nenek dangdut juga tau itu bukan pagi. Dia menenteng gitar bolongnya dengan mantap. Berjalan menyusuri gang dari kostannya. Menyetop angkot. Duduk manis di dalamnya dengan wangi minyak buljabalbul yang menyengat dari nenek yang duduk di sebelahnya yang mau tak mau harus dia nikmati dengan sabar.
Ckiiiiiitttt.....!! Supir angkot menginjak rem dengan tangkas hingga si angkot berhenti dengan kaget setengah mati. Jangankan para penumpangnya, angkotnya sendiri aja kaget! Emank dasar supir angkot dewa. Dicky turun dari angkot bedebah itu. Menyerahkan dua ribu rupiah dengan sangat tidak ikhlas. Kemudian masuk ke dalam studio.
Nevi, Ucok, Usro, dan stik drum langsung menyambut dengan protes keras. “Telaaaaat..!!”, seru Usro jengkel. “Gue bunuh lo kodok..!”, ancam Nevi dengan sebilah samurai di tangannya. “Ah bangke! Rugi lima belas menit empat puluh dua detik nih kita!”, ucap Ucok ngotot sambil menodongkan jam tangan barunya yang dibeli hasil taruhan balapan sama Usro kemarin. Dicky cengengesan sambil melihat satu persatu teman-temannya itu dengan rasa was-was, takut dimutilasi. Perhatiannya terhenti pada Kika yang cuman duduk di belakang drum. Wajahnya nampak murung dan kurang bersemangat.
Jreeeeeeng.... dug.. dug.. jreeeeeeeng.... “Yeehaaaa....!”, Ucok teriak dengan sangat fals kemudian nyengir kuda melirik Kika. Lagu selesai dimainkan. Jam latihanpun berakhir. “Harusnya kan yang teriak vokalis, ngapa kuda lumping?”, protes Nevi yang dibalas senyum indah Ucok yang hampir saja membuat Nevi muntah. “Kayaknya lo kurang semangat deh Ka, kenapa sih?”, tanya Dicky penuh selidik dari balik drumnya. Usro mengangguk penuh arti pada Kika. Kika membelalakkan matanya ke arah teman-temannya satu persatu dengan tampang terkejut seperti baru tersadar dari lamunan. “Hey, kenapa deh Ka?”, Nevi mengulang pertanyaan Dicky. Kika tersenyum kecil dan berkata, “Gak ada apa-apa ko nev hehee..”. Semuanya saling berpandangan, beberapa detik kemudian memutuskan untuk keluar dari studio itu dan bubar.
Kika mengendarai Honda Jazz nya dengan santai. Menikmati indahnya sore hari di sepanjang jalan Soekarno Hatta. Dia memikirkan sesuatu yang membuat pandangannya nampak kosong. Memang tidak perlu terlalu konsentrasi pada kemudinya sih karena jalanan saat itu lumayan sepi. Tiba-tiba lamunannya dipecahkan seorang laki-laki yang menunggang ZX250r yang menyalip mobilnya dengan sadis. Treeeeeeeeeeettttt......!! Suara knalpotnya ribut sekali sampai radio mobiln Kikapun tidak terdengar. Lelaki di atas motor itu sudah nampak sangat kecil di kejauhan sana. Kika teringat pada seseorang. “Mungkinkah itu Rocky..?”, ucapnya pelan.
Kika sampai di rumahnya. Memarkir mobilnya, dan turun dengan tenang. Melangkah menuju pintu rumahnya yang terbuat dari kayu dengan ukiran seperti akar pohon durian. Pohon durian akarnya kayak apaan sih? Bahkan penulispun belum pernah melihat akar pohon durian.
Kika menjatuhkan diri di atas sofa panjang yang sangat empuk. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Hhhh.... Dia memikirkan seseorang. HPnya berdering. Nampak di layarnya tertulis ‘Boyfriend’. “Hallo?”, terdengar suara berat laki-laki dari speaker HPnya. “Ya? Tumben nelpon sayang? Ada perlu ya?”, nada suara Kika sangat jutek dan tidak bersahabat. “Wah wah.. Jangan marah gitu donk. Aku kan udah minta maaf. Malam ini aku gak bisa ke rumah kamu ya, ada balapan”. “Sampe kapan sih aku bilang kalo aku gak suka kamu balapan?”. “Hahahaa.. Iya iya, ini yang terakhir kok janji ya?”. “Dimana?”. “Jalan kehidupan deket perempatan dunia, yang ada bekas alfamart kebakaran tuh”. Nama jalannya puitis ya? Hehee.... setelah pembicaraan selesai, Kika mematikan HPnya dan bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai 13. Eh bukan, maksudnya lantai 2.
“Akhir-akhir ini hubungan Kika sama cowoknya emank lagi kurang baik dick”, ujar Nevi pada Dicky. Saat itu mereka sedang makan mie rebus di warkop. “Emank kenapa sih Nev?”, tanya Dicky penasaran. “Cowoknya itu suka balapan dan Kika gak suka”, “Oh, gitu doank..”, “Eh? Seriusan Dick! Kikanya sayang banget sama si Rocky ini, jadi takut dia kenapa-kenapa”, jelas Nevi meyakinkan. Dicky hanya mengangguk seperti ayam kate mau disembelih.
Ucok dan Usro muncul dari balik pintu warkop yang hampir roboh itu. “Jadi kan?”, tanya Ucok penuh arti. Nevi mengangguk. Dicky bangkit dari tempat duduknya dan mengelap mulutnya yang banyak noda saus itu dengan tisu. “Pak, duitnya besok ya!”, seru Dicky pada bapak penjaga warkop. “Waduh kebiasaan utang mulu!”, protes si bapak yang dijawab dengan keheningan karena mereka sudah menghilang dari sana dengan berteleport.
Keempat bocah unik ini menuju lokasi balapan dengan harapan jagoan mereka akan menang. Karena kali ini taruhannya adalah siapa yang jagoannya menang akan menjadi raja untuk satu bulan. Yang kalah taruhan harus menuruti semua perintah yang menang. Sadis memang.
Lokasi balapan malam ini sangat ramai. Lebih ramai dari pasar pelelangan ikan laut di daerah Indramayu. Ucok memarkir vespa butunya di sebelah skuter Dicky. Nevi dan Usro berjalan menghampiri kerumunan orang-orang yang duduk di trotoar. “Wah, rame banget nih”, ujan Nevi pada kumpulan orang itu. “Hey Nev, dateng juga lo?”, seru lelaki bertubuh tinggi tegap dengan badan yang atletis. “Iya donk! Gue sengaja dateng sama anak-anak karena denger isu kalo si pembalap legendaris itu dateng kali ini”, “hahahahaa.... Lo terlalu berlebihan menilai kakak gue”, “dimana dia?”, “sebentar lagi juga dateng kok”, “kaki lo sehat?”, “yah, lumayan lah Nev, asal gak pake kursi roda lagi hehee..”. Donald, ini teman Nevi yang kenalan lewat facebook. Kakinya pincang setelah kecelakaan saat balapan beberapa bulan lalu.
Dicky mengamati bengkel kecil yang didepannya berjejer motor-motor balap besar. Dia terpukau melihat Aprillia RS 4 yang asli buatan Itali itu. Bahkan Usro terus memotret dengan Nokia kesayangannya. Seorang lelaki menghampiri Dicky, “Hey, suka?”. Dicky sedikit terkejut dan membalasnya dengan senyuman. “pembalap juga?”, tanya orang itu. Dicky menggelengkan kepalanya sambil tersenyum maksa. Lelaki itu menunggangi Aprillia yang daritadi dipandangi Dicky dan melesat menghilang dengan cepat ke arah jembatan sana meninggalkan Dicky yang masih bengong. “Hey dick! Itu kan Redy..!”, ujar Usro antusias. “Siapa emanknya? Temen lo?”, tanya Dicky polos. “Bego! Semua orang disini pasti tau kalo dia si legend itu!”, “Legend?”, “Iya! Kakaknya Donald yang gebetannya Nevi itu loh!”, terang Usro masih antusias. Tapi Dicky nampak tidak peduli dan kembali melihat-lihat motor balap yang berjejer.
“Ini monza, yang ini mugelo, mau pake yang mana bro?”, nampak Rocky sedang berbincang dengan kawannya sesama pembalap. Mereka berpakaian seperti pembalap makanya disebut pembalap. Kawannya menunjuk salah satu silincer knalpot yang dipegang Rocky. Rocky menyerahkannya. Di dalam bengkel kecil itu terdapat dua buah ZX250r tahun 2008. Milik Rocky yang berwarna merah sedangkan yang putih milik Ferry. “Yoshimura full sistem, selang rem NUI, kaliper brembo, CDI dual band no limit, dan sedikit polesan pada bodinya hmm....”, gumam ferry menanggapi ZX250r milik Rocky. “Hahahhaaa.... tembus 140kmph dalam tiga detik boy”, ujar Rocky bangga.
Seorang lelaki dengan jaket hitam, jins hitam, dan kulit hitam menunggang Yamaha R1 biru yang sungguh kontras dengan penampilan dirinya. David, pembalap legendaris juga. Semua yang melihatnya langsung terpukau dan berusaha melirik dahinya yang konon terdapat bekas luka akibat tabrakan dengan pembalap lain saat kejuaraan resmi 250cc yang melambungkan namanya. Dia turun dari Yamaha R1 nya. Berjalan dengan mantap menuju warung di sebelah bengkel. Duduk di kursi dan meminum kopi yang tergeletak di atas meja. “Hey boy! Beli sendiri donk!”, seru Seorang lelaki jengkel karena minumannya dihabiskan tanpa ampun. “Sorry lay, nanti gue pesenin lagi”, David meminta maaf pada sahabatnya itu. Chun lay, mekanik andalan David sekaligus rival balapnya datang juga malam ini untuk memamerkan motor barunya. “Tuh, liat! Namanya Diana”, ucap Chun lay sambil menunjuk sebuah VFR1200 yang terparkir di samping mereka. David tersenyum.
“Kali ini balapan ZX kelas 250 ya? Sepertinya menarik..”, ujar seorang cewek cantik dengan perawakan tinggi semampai dan rambut terurai indah yang duduk di atas ZX14. “hey Nina! Lama gak ketemu ya?”, sapa seorang cewek lagi dengan pakaian serba pink yang duduk di atas Kawasaki ZXR 750. “Wah wah.. Lo masih aja nyimpen rongsokan tahun 92 begitu hey dasar Ika!”, “Jangan salah Nin, ini tunggangan yang bisa melibas Hayabusa dalam satu tarikan RPM”, jawab Ika meyakinkan.
“Para peserta balap sekalian.. Diharap berkumpul di ruang brifing untuk pengarahan dan siapkan ninja kalian masing-masing”, terdengar suara sexy wanita yang menggunakan speaker yang terpasang di tiap sudut tempat itu. Para pembalap segera memenuhi ruangan brifing.
David, Chunlay, Ferry, Rocky, Nina, Ika, dan empat orang lelaki yang tidak dikenal. “Kalian pembalap baru ya?”, tanya Ika ramah. Keempat pemuda itu mengangguk manis dan tersenyum. “Wah, jadi dua lady racer juga ikut ya?”, sapa seorang pria tua yang sepertinya juri dalam balapan ini. Ika dan Nina tersenyum. “Apa kalian membawa ZX250r kalian masing-masing?”, tanya pria tua itu. Kesepuluh pembalap mengangguk. “Suruh asisten kalian memarkirkan ninja kalian itu di garis start sekarang juga!”. Brifingpun dimulai dengan damai dan kondusif.
Para pembalap keluar dari ruang brifing dengan wajah tegang. Berjalan menuju garis start untuk menemui ZX250r milik mereka masing-masing. Nina mencium ZX14 nya dulu yang terparkir di tempat yang sudah disediakan bagi kendaraan pribadi para pembalap kemudian menuju garis start dengan mantap. Ika juga mengelus ZXR750 nya yang terparkir tepat di sebelah ZX14 milik Nina. David, Chunlay, Rocky, Ferry, dan pembalap lain juga melakukan hal yang sama kemudian menuju garis start.
Kika muncul di hadapan Rocky dari balik kerumunan penonton. “Rock.. plissss..”, ujar Kika lirih. “Hey ka, aku janji akan berhenti balapan setelah ini”, ucap Rocky pelahan. Tangannya memegang pundak Kika menenangkan. “Gak!”, Kika menepis tangan Rocky. “Aku gak mau kehilangan orang yang aku cinta lagi. Pliiiss....”, Kika teringat Denny, adiknya yang meninggal saat balapan setahun yang lalu. “Kalo kamu gak batalin balapan ini, kita putus!”, seru Kika dengan nada yang meninggi. Matanya melihat Rocky tanda tak senang. Rocky terdiam mendengar ucapan itu. “Kika ini gak fair, plisss kali ini beneran terakhir. Ini penting untuk aku!”, “penting untuk kamu! Kamu pikirin aku juga!”, “Iya aku tau, aku janji gak akan kenapa-kenapa kok”, “Cukup! Kita putus!”, “Kika? Pliss?”, “Kamu gak ngerti Rocky, gak ngerti..! Sekarang terserah deh! Lakukan sesuka kamu!”. Kika membuang muka, balik badan, dan berlari meninggalkan Rocky yang terbata disana. Kika berlari dengan menutupi matanya, mungkin menangis.
Bruuuuuummmmmmmmm.....!!!! Ddhhhhuuuuuuuuummmmmmm......!! Ziiiiing.... ziiiiing....
Suara khas itu.. Sebuah Hayabusa menghampiri Rocky yang berdiri di tengah jalan. “Aron? Hey!”, seru Rocky kaget. Lelaki di atas Hayabusa itu tersenyum mantap. Rambut pendek semi mohawk ciri khas Aron, sedikit berantakan saat ia melepaskan helm. “Kenap lo? Keliatan murung gitu, padahal gue udah bela-belain datang dari jepang untuk nonton”, “Eh? Kaga kok ron hehee..”, “Kika ya? Selalu Kika kan?. Rocky tersenyum. “Ya udah Rock, cepet beresin balapan ini dan temuin Kika”. Rocky menundukkan kepala dan berkata, “Hey ron, tolong lo sampein ke Kika kalo gue cinta sama dia ya! Karena kayaknya gue gak akan ngomong sama dia lagi”, Rocky teringat ucapan Kika yang mutusin dia. Kedua lelaki itu saling melempar senyuman penuh arti. Aron mengacungkan jempol tanda semangat. Rocky menjawabnya dengan mengacungkan jempol pula. Kemudian Aron menarik gas dan menghilang bersama Hayabusanya secepat angin.
“Hey Rocky! Tau satu pepatah legendaris para pembalap?”, tanya Nina pada Rocky yang mendapat urutan start tepat disebelahnya. “Eh? Apaan Nin?”, Rocky penasaran. “Gunakanlah rem seolah-olah kau gagal menggunakan rem”, seru Nina. Rocky berfikir, kemudian berkata, “terima kasih ya!”. Nina tersenyum dan menambahkan, “Itu diucapkan oleh pembalap legendaris Aron si penunggang Hayabusa!”. Rocky teringat sahabatnya yang barusan, kemudian tersenyum penuh makna.
3.... 2.... 1.... Gooooo....!!
Bruuummmmm....!! Sepuluh buah ZX250r melaju cepat melibas garis start menyisakan debu jalanan dan harum emisi knalpot. Puluhan kepala yang menyaksikan balapan itu telah dimulai menandakan atmosfer sirkuit yang memanas. Nevi, Dicky, Ucok, dam Usro menganga menyaksikan start para pembalap yang menawan. Ada yang standing. Ada yang langsung menyalip. Ada juga yang terbang dengan sayap. Ngaco! Mana ada motor balap pake sayap terus terbang hahahhaaa....
Rocky memacu ninjanya dengan tangkas, fokus dan mantap. Di posisi pertama adalah Nina, gadis yang sangat terkenal. Dibelakangnya David dan Ika saling memperebutkan posisi kedua. Chunlay mulai mendekati Ferry yang tepat di belakang Rocky diikuti keempat pembalap pendatang baru.
Balapan sudah hampir mendekati garis finish. Ya, setelah tikungan tajam terakhir itulah garis finishnya. David di posisi pertama, Rocky mengejarnya. Tersisa lima pembalap saja sejauh ini. Lima lainnya terjatuh sehingga tidak dapat melanjutkan balapan. Rocky sangat antusias menjuarai turnamen ini karena ia telah menetapkan bahwa ini balapan terakhir dalam hidupnya.
Rocky memacu motor itu dalam kecepatan 165kmph diatas 13000rpm. David sudah melepas gas, menarik rem, dan bersiap untuk menikung. Rocky tahu kalau itu adalah waktu yang tepat untuk menurunkan kecepatan dan segera menikung namun dia tidak melakukan pengereman karena terlalu berambisi untuk menyalip David. Akhirnya David menikung dengan mantap. Namun sayang sekali Rocky gagal menikung dengan baik. Ban belakangnya tergelincir. Menikung terlalu lebar dan kehilangan kontrol pada stangnya yang padahal sudah dilengkapi dengan Stabilizer NUI. Rocky menabrak pembatas jalan yang membuat tubuhnya terpelanting jauh dari motornya. Gubraaaakk.....!!!!
Balapan selesai. David juara pertama, Ferry kedua, dan Ika ketiga.
Para kru dan tim medik berlarian menghampiri lokasi kecelakaan Rocky. Para penontonpun mulai ricuh dan berhamburan untuk menyaksikannya sehingga selebrasi para pembalap yang juara tidak dihiraukan.
Kika yang sedang duduk di dalam sebuah kafe bersama Aron terbatuk karena tersedak minuman dingin yang diminumnya. “Hey, pelan-pelan ka”, ujar Aron. HP Kika berdering. Dicky. “Halo, ada apa Dick?”, tanya Kika. “Rocky kecelakaan! Gue juga nonton balapan ini. Gue kira lo dateng juga, dimana lo? Cepet kesini..!”. kika terkejut setengah mati dan langsung menarik lengan Aron untuk segera menuju tekape. Aron dan Kika melesat dengan Hayabusa.
Sesampainya di lokasi kejadian. Kika menyaksikan tubuh Rocky yang ditandu oleh para medik dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuh Rocky sampai wajahnya. Kika mengucurkan air mata dengan deras tak mampu menahan setetespun. Bahkan Kika tak kuasa menahan tubuhnya untuk berdiri. Kika terjatuh pingsan, untung Dicky menahan tubuhnya dengan sigap sehingga Kika tidak terjatuh.
Kika siuman. Mendapati dirinya berbaring di kasur yang empuk dan nyaman. Dia memandangi sekeliling. Di tembok terpajang foto yang sangat besar bergambar dirinya dan Rocky tengah berpose di sebuah motor balap seri ZX250r warna merah. Dalam foto itu mereka tersenyum bahagia.
“Lo udah sadar?”, suara Nevi membuyarkan lamunan Kika. Kika tersenyum. Ucok dan Usro juga tersenyum tulus. Mereka bisa tulus juga lho. Dicky datang dari balik pintu membawa sesuatu di tangannya. “Ini ka, titipan dari Aron, katanya dipungut dari serpihan motor Rocky”, Dicky menyerahkan gantungan kunci sebesar jempol pada Kika. Gantungan kunci yang berbentuk winie the pooh dengan ukiran di perutnya yang bertuliskan ‘Kika Veronika’. “Ini hadiah Rocky dari gue waktu dia juara balapan dua tahun lalu”, ujar Kika lirih. Para sahabatnya menatap Kika dalam-dalam sehingga merasakan yang Kika rasakan.
Dulu Kika memang sangat menyukai balapan sampai berpacaran dengan Rocky yang juga seorang pembalap. Adik Kika, Denny adalah pembalap junior namun meninggal karena kecelakaan saat balapan di kelas bebek 125cc setahun lalu. Sejak saat itu Kika mulai phobia pada balapan. Dan Rocky mengatakan telah berhenti balapan agar tetap bisa berpacaran dengan Kika. Namun sebenarnya Rocky tetap balapan secara diam-diam hingga saat kemarin itu. Akhirnya itu adalah benar-benar balapan terakhir bagi Rocky sesuai dengan janjinya.
Dicky meninggalkan kamar Kika karena tak kuasa menahan haru. Meninggalkan ketiga sahabatnya yang memeluk Kika untuk menenangkan Kika.
Di jalanan ada kehidupan..
Di jalanan ada tantangan..
Di jalanan ada perjuangan..
Dan di jalanan pula ada akhir..
Rona iswara
23 juni 2011-06-24 hehee....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar