Minggu, 22 Agustus 2010

Diky si Kodok "Mati Tertawa Lahir Menangis"


Sebuah kisah tentang anak kost yang hidup dengan indah (paling gak kata dia sendiri) di salah satu kota besar di Indonesia tepatnya di pulau jawa di provinsi jawa barat dan lebih tepatnya lagi di kota Bandung. Yah, kota kembang yang banyak ditumbuhi kembang desa (lho?). Ceritanya tentang anak kost yang merantau ke kota ini untuk mencari ilmu di sebuah Universitas, ya iyalah! Masa di sebuah toko kaca atau salon anjing?? Namanya Diky, sering dikatain sama teman-temannya sih ‘kodok’. Mungkin karena wajahnya yang kayak kodok dan hobinya lompat-lompat, serta mampu hidup di dua alam, yaitu alam dunia dan alam gaib. Lah?? Kok bisa?? Ya bisa! Yang gak bisa itu tukang pecel disuruh nambal ban, ban kereta lagi..
                Jum’at siang itu terasa panas, jelas sekali karena matahari sedang terik-teriknya. Braakk....!! Pintu kamar kost yang kayaknya mau roboh itu terbuka dengan kasar dan sadisnya. Ucok, bocah ajaib yang rambutnya klimis seperti baru disemir itu nongol dari balik pintu dengan wajah ditekuk kayak panekuk. Diky yang saat itu sedang melamun di kamarnya sambil kilik-kilik kuping pakai linggis, kontan aja kaget. “ngujubilee cok, ketok pintu dulu ngapa!” seru Diky. “Sori dik, gue terbawa esmosi..”, jawab Ucok yang langsung berguling di kasur menghadap TV yang siarannya semut semua.
“Ada apa emank cok? Dimarahin lagi lo sama pak sukri yang tukang pecel itu? Makanya cok, bayar kalo makan tuh!”, celoteh Diky sekenanya. “Ah, kodok lo! Serius nih gue!”, seru Ucok jengkel. Rambut klimisnya diacak-acak pake tangannya sendiri yang bau amis saking keselnya. “Sendal gue dik! Tadi beres jum’atan gue kan mau main ke rumah si Intan. Eh, gagal dah tuh niat gue gara-gara sendal gue raib. Mana itu satu-satunya lagi”, jelas Ucok dengan nada dongkol mendapati kenyataan harus berpisah dengan sendal jepit dekil kesayangannya. “Jiaahh.. Udah aja kali cok! Sendal jepit doank ini. Lagipula tuh sendal lo boleh ngembat dari rumah si Usro kan??”, sergah Diky enteng. “Yee.. Sendalnya sih boleh dah ilang! Tapi masalahnya gambarya itu dik! Spongebob lagi nungging! Gue banget dah tuh gambar yang ada di sendal jepit itu! Kagak ada beli dimanapun juga”. Diky cuman geleng kepala dan melanjutkan kegiatannya mengilik kuping, kali ini dengan ujung kepala gitar.
Usro yang celingukan di depan kosan Dicky dikagetkan dengan suara sumbang Ucok. “Ada maling ompong!!”, teriak Ucok tepat di depan telinga Usro. Usro spontan aja lompat setinggi dua kilometer saking kagetnya, tinggi juga ya?? “Ah, sialan lo cok! Ngagetin aja!”. “Lah, elo ngapain celingukan disini kayak maling jemuran mau nyolong sempak pembantu? Bukannya masuk!”, seru Ucok membela diri. “Itu cok, tadi gue liat cewek cakep banget dah di depan sana. Sapa ya?”, terang Usro sambil menunjuk sebuah rumah besar bercat merah muda di ujung gang. Diky yang merasa terusik dengan suara kedua teman uniknya yang lebih fales dari gitar keriting itu keluar dari kamar kosnya. “Eh, ada apa sih kalian?? Masuk dah sini! Mana pesenan gue sro??”, seru Diky tidak sabar. “Eh, itu dik. Cewek yang depan sana itu sapa sih?? Tau ga lo?? Lo kan ngekos disini. Ini titipan lo. Harganya tujuh ribu plus ongkos delivery sepuluh ribu. Jadi semuanya tujuh belas ribu”, jelas Usro seraya menyodorkan bungkusan pada Diky. “Mati kipe lo!! Harga sama ongkos mahalan ongkosnya??”, Pekik Diky seraya merampas bungkusan plastik item yang sedari tadi ditenteng oleh Usro itu. Isinya nasi goreng. Yah, sore itu Diky belom makan siang dan kebetulan si Usro yang kosannya lebih dekat dengan tempat mangkal tukang nasi goreng yang mudah diutangin, menjadi alat penting untuk dititipi pesanan favoritnya itu.
“Dik, itu gimana??”, tanya Usro penasaran ketika ketiganya sedang duduk manis di dalam kamar kos Diky. “Apaan?? Bayarnya?? Entar, gue makan dulu!!”, jawab Diky cuek. “Bukan, cewek yang disana itu!”, jelas Usro. “Ooh.. itu temennya Nevi kali. Yang tadi lo tunjuk itu kan kosan si Nevi”. “Wah, bisa donk gue kenalan lewat si Nevi ya??”, seru Usro antusias. “Sok sok aja sih sro, cuman lo beresin dulu tuh rambut. Biar kagak kayak sapu ijuk habis kebakar menyan gitu. Keramas kek sekali kali!”, saran Ucok ngasal. Emank sih, si Usro ini pemilik rambut yang keriting kayak kepiting makan emping. Lengkap dengan kulit item dan perawakan yang kurus kering, lebih kering dari kerupuk udang cirebon. Nah, padahal kedua orang tuanya berambut lurus lho. Mungkin rambutnya keriting sendiri karena hobi keramas pake salep buat koreng kali ya? Busyet dah!!

****
Keesokan harinya.. Diky yang tumben bangun jam enam pagi itu langsung keluar dari kamar kosnya dan melangkahkan kaki kaluar dari gang. Ketika para pembantu rumah tangga sedang menyiram tanaman dan para sopir sedang mengelap mobil majikannya masing-masing dan para burung sedang riang menyanyikan lagu pagi, kecuali burung si Ucok .Diky berniat jalan-jalan di pagi itu. Menikmati indahnya Dago yang kala itu ramai dengan anak-anak sekolah yang baru pada mau berangkat. Ada juga anak-anak yang baru jadi mahasiswa dan sedang dalam proses ospek yang berdandan aneh-aneh. Ada yang pake kalung dari tali rapiah dengan name tag yang tebuat dari kardus, bawa balon, tas dari karung, memakai topi yang terbuat dari koran bekas bungkus pisang goreng, dan ada juga yang bawa panci bekas, wajan bekas, kompor bekas, sampai mesin cuci bekas. (Lho, emanknya mau ke pasar loak??). Untung gak ada yang bawa pacar bekas..
Langkah Diky terhenti ketika berpapasan dengan seorang gadis imut nan cantik dengan dandanan sederhana yang kemudian tersenyum kecil padanya. Senyum yang terpancar dari bibirnya yang sensual terasa manis sekali, lebih manis dari gula jawa. “Eh, kamu kan yang temennya Nevi ya??”, sapa Diky kemudian. “Iya, kok kamu tau?”, jawab gadis itu ramah, suaranya merdu dan memanjakan telinga pendengarnya. “Iya, soalnya saya sering liat kamu kaluar masuk kosan Nevi. Mau kemana nih pagi-pagi begini?”, tanya Diky. “Mau ke kosan Nevi, mau pinjem DVD”, gadis itu membetulkan rambutnya yang panjang yang sempat tertiup angin sehingga menutupi mata dengan jarinya. “Oh, kebetulan. Bareng aja yuk.. Saya juga mau ke kosan Nevi, mau pinjem tusuk gigi”, ajak Diky sekenanya. “Lho, tapi kok arah kamu kesana tadi?”, tanya gadis itu lagi sambil menunjuk arah yang berlawanan yang dituju Diky sebelumnya. “Eh, itu tadi sebenarnya saya lagi jalan mundur. Ngelatih insting hehee..”, jawab Diky ngasal. “Oh iya, aku Vita”, kata gadis itu memperkenalkan diri. “Eh, saya Diky.. Lengkapnya Diky Sukarja bin Raden mas selamet kusmantoro benci coro juga benci kebo”, jawab Diky sambil menyodorkan tangan kanannya yang kemudian disambut dengan salaman oleh Vita. Tangan gadis itu terasa lembut dan hangat, sehangat musim semi di eropa, lebih hangat dari teh manis buatan emak Inah. Mereka berduapun berjalan bersama menuju kosan si Nevi.
Nevi yang kala itu sedang nonton DVD di kamarnya dengan didampingi tisu yang berceceran dimana-mana. Sesekali dia menyeka air mata yang mengalir deras bak hujan di musim panas. Lho?? Akibat global warming kali. Tok tok tok.... Pintu diketok, pala ku nongol. Astagfirullah, pak RW datang bawa polisi, aku diseret dari kamar mandi tanpa baju, tanpa handuk. Lho, kok jadi nyanyi lagu Jamrud?? “masuk aja! Gak dikunci kok..”, seru Nevi tanpa mengalihkan pandangan dari layar TVnya. Diky pun masuk bersama Vita. “Hey, vi.. sehat lo??”, tanya Diky yang langsung mengambil alih remot TV dengan paksa kemudian mengganti channel DVD ke siaran globalTV seenaknya. Kontan aja Nevi mencak-mencak, “Diky!! Sialan lo!! Main ganti aja! Gue lagi nonton August Rush bego! Cepet ganti lagi ga! Gue tampol nih!”. Diky tak kuasa menepis tangan kiri Nevi yang merebut kembali remot dengan tangkas, sedangkan tangan kanannya memegang sebilah samurai asli Jepang yang siap menebas leher Diky jika melakukan perlawanan. “Yah, enak tadi Nev, spongebob. Ceritanya si Patrick baru buka toko tambal ban tuh!”, gumam Diky membela diri. “Udah-udah jangan ribut.Masih pagi tuh udah ribut..”, suara merdu Vita meyadarkan kedua bocah ajaib ini. Keduanyapun tersadar bahwa ada Vita disini. “Eh, iya duduk Vit sini..”, Nevi mempersilahkan Vita duduk di sofa panjang di sebelahnya. “Filmnya sedih ya Nev?”, tanya Vita penasaran. “Iya Vit, jadi lo mau minjem DVD No Limit gue?”. “Iya, gue belom nonton soalnya”. Tiba-tiba Diky memotong, “Vita suka film Korea juga??”. “Juga?? Emank lo suka Dik??”, protes Nevi. “Suka kok gue!”, “Halaah.. cuman tau Fullhouse doank juga lo!”, cibir Nevi. Vita hanya diam dengan menahan tawa karena melihat tingkah kedua temannya ini yang terus berantem. Emank si Diky sama Nevi ini kalo ketemu suka berantem kayak gitu. Bukan karena musuhan atau apa, tapi emank keduanya sama-sama bertingkah kayak anak kecil. Lagi pula ini berlangsung sejak mereka sama-sama masih SMA. Nevi ini merupakan sahabat Diky sejak SMA.
“Eh, gue ke warung emak Inah dulu ya! Mau sarapan, ikut gak kalian??”, ajak Nevi yang kemudian bangkit dari duduknya. “Enggak deh, aku belom laper nev, ntar sarapan di rumah aja”, jawab Vita kalem. “Kalo gue pesen nasi kuning dibungkus aja ya Nev! Jangan lupa, gak pake sambel, gak pake bawang, dan gak pake bayar ya!”, seru Diky sambil cengengesan. Nevipun lenyap dari kamar kosnya seteleh memelototi Diky seolah-olah ingin mencabik-cabik dan memakan tubuhnya. Iiiih.. serem ya?? Emank si Nevi ini terkesan garang dan tegas, namun sebenarnya berhati lembut. Penampilannya yang selalu tampak santai dan tanpa make up membuat kecantikan alaminya bersinar terang seperti bintang di langit malam.
Tinggallah Diky dan Vita berdua menatap TV yang menyiarkan film tentang musisi itu. “Eh vit, ganti aja ya? Kamu ga suka film ini kan?”, tanya Diky halus sambil berancang-ancang untuk memencet tombol remot yang tergeletak tanpa penjagaan si Nevi lagi. “Iya, sok aja dik..”, Vita mempersilahkan dengan ramah. Dan, TV pun berubah seketika menyiarkan spongebob yang sedang asik-asiknya mengendarai mobil dengan sahabat sejatinya Patrick. Kedua bocah remaja ini pun tertawa terpingkal-pingkal ketika kartun tersebut melakukan adegan-adegan konyol. Seperti ketika adegan spongebob menelan sepatu boot mentah-mentah yang membuat tubuhnya berubah bentuk menjadi seperti sepatu boot, Diky terbahak-bahak sampai empat giginya cocot, lidahnya lepas, bibirnya memble, dan matanya loncat dari kelopak. Ya enggak lah!!
“Eh vit, tau gak apa bedanya spongebob sama patrick?”, tanya Diky sambil menahan tawa. “Hm, kalo spongebob warna kuning, kalo patrick pink?”, jawab Vita sekenanya. “Salah! Standar amat jawabannya. Ayo donk apa??”, desak Diky. “Ga tau deh nyerah, lagi males mikir juga”, Vita menyerah setelah berfikir beberapa detik. “Nih ya, kalo spongebob makan sepatu boot jadi lucu kayak tadi. Tapi coba kalo yang makan sepatu boot tadi itu patrick, pasti jadi mirip si Nev..”, ucapan Diky terhenti ketika dia melirik ke arah pintu dan mendapati Nevi sudah berdiri disana, ternyata sudah selesai sarapan dari warung emak Inah. Gubrraaaakk....!! Dua buah sepatu kets, tiga sepatu hak, enam sepatu kuda, lima sepatu kaca, dan empat sandal jepit berhamburan ke arah Diky. Nevi menyambitnya dengan sadis.
Setelah beberapa lama mereka tertawa-tawa dan bercanda ria. Diky baru menyadari ada sesuatu dari balik senyum dan tawa Vita. Gadis putih nan molek ini seperti menyimpan sesuatu di balik senyum manisnya. Apa? Diky bertanya-tanya dalam hati. Seketika Diky merasa senyuman dan tawa manis gadis ini terasa hambar. Diky hanya memperhatikan Vita dan Nevi yang sedang ngobrol, mungkin bergosip atau sekedar berdiskusi tentang film. Namun, setiap kali Diky memperhatikan Vita yang tersenyum, kenapa selalu terasa hambar dan kosong. Seperti senyum palsu. Seperti menyimpan kesepian yang mendalam. Rasa sunyi yang teramat sangat kelabu. Apa ini? Apakah hanya perasaan Diky saja? Atau memang benar adanya. Ah.. Sudahlah. Diky enggan berfikir yang tidak-tidak tentang gadis cantik ini.
“Dik, hey.. Aku pulang duluan ya..”, lamunan Diky terpecah ketika suara Vita menyadarkannya. “Eh?? Selang?? Saya ga bawa selang Vit. Tuh, mungkin Nevi punya..”, jawab Diky polos yang tak menangkap pertanyaan Vita dengan jelas. “Bukan bukan.. pulang. Aku udah mau pulang nih. DVDnya udah dapet. Mau buru-buru nonton di rumah”, jelas Vita. “Oh, oh iya iya, silahkan deh.. Aku pulang nanti aja. Masih pengen disini”, jawab Diky mempersilahkan. Setelah Nevi mengantarkan Vita sampai depan kosannya, Nevi kembali ke kamar kosnya dan bertanya pada Diky yang sedang mengilik kuping dengan remot DVD, “Lo ngelamunin apa sih Dik?? Sampe ga denger tanya Vita tadi?”. “Eh anu Nev.. Kok gue ngerasa Vita nyembunyiin sesuatu di balik senyumannya ya? Apa perasaan gue doank?”, jelas Diky dengan nada heran. “Oh, mungkin karena sakitnya kali”, jawab Nevi. “Sakit?? Sakit apaan??”, tanya Diky penasaran. “Ah, kaga kok! Sakit biasa aja. Udah ah, gue mau mandi dulu”, Nevipun melesat menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Diky yang masih penasaran. “Yaudah deh, gue balik ya! Tugas Hukum adat gue tolong lo ketikin!!”, Diky sempat berseru sebelum segera menghilang dengan ninjutsu dari kosan Nevi. “Kampret tuh bocah!”, pekik Nevi. Yah, setiap ada tugas kuliah tak jarang Diky meminta tolong (okelah, memaksa) Nevi untuk bersedia mengetikkannya. Bukan hanya karena Nevi punya laptop sedangkan Diky hanya punya mesin tik dan mesin bubut, tapi juga karena Nevi emank selalu bersedia (oke juga deh, dengan terpaksa) melakukannya demi sahabat karibnya yang lumayan ganteng itu (yah, paling tidak lebih ganteng dari tukang somay yang biasa keliling dari jam 5 subuh sampai magrib di sekitar situ).

****
Keesokan harinya.. Diky yang sedang terguling nyenyak di kasur bermotif  Manchester United itu diguncang-guncangkan badannya dengan sadis dan anarkis oleh Nevi. “Apaan sih Nev?? Gue lagi mimpi jadi Naruto nih! Ganggu aja! Minggat lo!”, bentak Diky kesal. Dia paling tidak suka tidurnya diganggu. “Bangun Diky..! Anterin gue!!”, pinta Nevi setengah merengek. “Ahh.. kemana?? Tukang pasang behel lagi?? Minta Ucok atau Usro aja!!”, jawab Diky singkat tanpa melepas pelukannya dari guling spongebob kesayangannya. “Bukan, ke rumah sakit!”, seru Nevi tepat di mulut telinga Diky (jadi yang bener di mulut atau di telinga nih?? Ah saya juga bingung). “Ngapain?? Bukannya neneknya Kika udah sembuh??”, tanya Diky, kali ini sudah agak sadar tapi masih merem. “Bukan, nengokin Vita”, jelas Nevi. “Apa??”, tanya Diky, kali ini sedikit melotot kaget. “NENGO..KIN VITA..!!”, bentak Nevi kesal. “Emank si Vita sakit??”, Nevi mengangguk. “Sakit apa??”, tanya Diky penasaran. “Leukimia”, jawab Nevi lirih. “Apa??”, tanya Diky memastikan, kali ini sambil mengorek kupingnya dengan jempol kakinya sendiri. “iih.. sejak kapan sih lo budeg gini Dik??”, tanya Nevi kesal. “Beneran??”, “Iya, lo budeg!!”. “Bukan! Maksud gue beneran si Vita sakit leukimia??”, tanya Diky antusias. “Ngapain gue bohongin lo! Mending bohongin orang china banyak duitnya!”. Sedetik kemudian, Diky sudah rapih berpakaian, tanpa mandi tentunya.
Nevi sudah duduk dengan manisnya di atas skuter hitam kesayangan Diky. “Awas, jangan nyeruduk tukang balon lagi lo Dik! Pelan-pelan aja!”, seru Nevi khawatir. Diky sedang memasang helm dan berpose gaya Valentino Rossi yang mau balapan. Balap karung maksudnya. “Iya iya kagak kok! Palingan nyeruduk nenek-nenek yang lagi nyebrang terus nyenggol babu tetangga yang pulang belanja, terus nyerempet angkot cicaheum-ciroyom, terus nyungsep di got!”, jawab Diky enteng yang disusul dengan tonjokan ringan beruntun dari Nevi di punggungnya, sakit juga lho, gini-gini si Nevi hobi olahraga sih. Merekapun meluncur meninggalkan asap kenalpot yang nampaknya tuh motor belom ganti oli selama dua tahun dan belom diservis sekalipun dalam hidupnya. Ckck....
Diky berdiri di ruangan hening. Serba putih. Dinding putih, tirai putih, meja putih, bangku putih, semuanya putih. Ditatapnya seorang gadis manis tak berdaya yang terbujur lemas tak berdaya di atas kasur putih yang sepertinya nyaman sekali. “Vita, kamu udah baikan?”, tanya Nevi dengan suara pelan seraya meletakkan buah-buahan yang sempat dia beli dalam perjalanan. “Semoga aja Nev, makasih ya udah nengok. Aku seneng banget pernah berteman sama kamu”, jawab Vita lirih. “Vita kamu ngomong apa sih! Eh, iya, ini aku bareng Diky”. Vita menoleh ke arah Diky yang padahal sudah di samping Nevi dari tadi. Vita memberikan senyum manisnya pada Diky, “Hai, Dik..”. Diky menyentuh rambut indah yang lembut milik Vita, “Vita, kamu sakit apa?”. “Nevi udah ngasih tau kan?”, Vita malah balik bertanya pelan. Diky hanya mengangguk lemah. “Leukimia?”, Diky memastikan dengan menatap kedua mata Vita lekat-lekat. “Kenapa? Kamu khawatir sama aku ya? Semua orang pasti mati kan? Gak papa kok Dik.. Semua yang ada di dunia ini memiliki batasan kan?”, “Sssstt....”, potong Diky. “Kamu pasti sembuh Vita, aku janji”, hibur Diky yang langsung menggenggam telapak tangan Vita tanpa ragu. “Diky, kamu apa-apaan sih? Aku baik-baik aja kok. Kamu pikir semua penderita leukimia itu pasti mati ya? Penderita koreng  juga bisa mati kok dik”, Vita berusaha melepaskan genggaman Diky dari tangannya namun Diky terlalu kuat menggenggam tangan Vita.
Nevi hanya menatap kedua temannya itu berbicara, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghibur keduanya. “Diky, aku tau dari Nevi kalo kamu itu konyol, lucu, baik, perhatian, dan jarang mandi. Tapi sekarang kenapa kamu diem?”, tanya Vita masih dengan nada lirih. Diky tak kuasa menatap matanya, dia hanya menunduk di hadapan Vita masih sambil menggenggam tangannya. Membayangkan betapa malangnya gadis manis ini. “Diky, mana kekonyolan kamu itu? Ayo tebak-tebakan spongebob lagi..”, kali ini Diky nampak seperti menahan air mata, matanya berkaca-kaca. Tak disangka seorang gadis semuda ini bisa begitu tegar menghadapi penderitaan yang tak seorangpun mengharapkannya.
“Hey, laki-laki gak boleh nangis lho. Kamu ini kenapa coba?”. “Kamu pasti sembuh Vita, aku janji..”, Diky mengulangi ucapannya, kali ini nadanya sedikit turun. “Diky denger ya, kalaupun aku gagal sembuh dari penyakit ini. Aku gak papa kok. Udah bisa kenal dan berteman dengan kalian aja aku udah bersyukur. Semua awal pasti menemui akhir, setiap ada kelahiran pasti ada kematian, semua ini memiliki batasan. Karena batas itulah kita semua dituntut untuk berjuang kan? Aku udah berjuang dan ini udah batasnya Diky. Kenapa orang selalu menangisi kematian padahal yang akan mati tidak menangis.” Mata Diky berkaca-kaca, diciumnya kening gadis itu dengan lembut untuk menghentikan ucapannya. Vita menatap Diky dengan tatapan mata kosong yang menyayat hati.  “Kamu pasti sembuh Vita, pasti..”, Diky hanya bisa mengulangi kata-katanya, pikirannya kacau. Nevi memeluk Diky dari belakang untuk menenangkan Diky. “Udah Dik, jam besuk kita hampis habis. Biarin Vita istirahat dulu”, ujar Nevi pelan. Vita mengangguk sambil menatap Diky dalam-dalam. Mengisyaratkan agar Diky menuruti kata-kata Nevi. Dikypun melepaskan genggamannya, kemudian beranjak dari ruangan itu bersama Nevi setelah sebelumnya, Nevi menyuruh Vita agar beristirahat yang tenang, “kamu istirahat ya vita, kita pulang dulu.” Vita mengangguk dan tersenyum sambil terus menatap kedua temannya lenyap di balik pintu kamar Rumah Sakit itu. Dalam hatinya ia merasa begitu tenang. Terima kasih Diky..
Sementara di perjalanan pulang, Diky terus memikirkan Vita. Mengharapkan dengan sangat agar penyakitnya dapat sembuh. Tak henti berdo’a di dalam hati untuk gadis belia yang tak berdaya itu. Bayangan wajah Vita terus berkelebat di benaknya. Menggambarkan kepedihan dengan sorot mata kosong itu. Mengisyaratkan kehidupan yang berat dan sepi. Diky begitu nyata merasakan kesunyian yang terpancar dari raut wajah Vita tadi. Seperti langit malam yang gelap dan tanpa satu bintangpun yang menerangi. Rasanya ingin sekali Diky menjadi satu bintang yang mampu memberi sedikit saja sinar untuk hidup Vita. Pikiran-pikiran itu membuat Diky tidak konsen saat mengendarai sepeda motornya. Alhasil, dia sempat hampir saja menyenggol tukang es lilin yang sedang nyebrang. Otomatis si tukang es lilin itu mencak-mencak penuh emosi, “Woi bocah sialan lo! Kutu kupret! Kecoa buntung! Babi rusa! Eh, babi ngepet!! Nyembah babi!! Bisa nyetir motor gak sih lo??”. Nevi terbelalak kaget, “Tuh kan Dik, ati ati coba!!”. Diky hanya nyengir kuda dan melanjutkan laju motornya.

****
Malam harinya.. Handphone Nokia E75 silfer melantunkan sebuah tembang Dear God milik Avenged sevenfold. Diky mengangkatnya “Hallo, apaan Nev??.. Hah?? Apa?? Ooh.. iya ini gue dah mau ke studio kok. Tunggu aja!” Diky bergegas memakai jaketnya dan menuju studio tempat mereka biasa latihan. Skuter yang dia namai Sukri (motornya merek Sky Drive) itu diparkirkan di sebelah mobil jazz milik Kika. “Hey, udah lama ya?”, tanya Diky cengengesan. Emank bocah yang satu ini paling hobi ngaret kalo pas latihan biar terkesan penting. “Enggak kok sayang, baru sebentar. Sebentar banget. Sampe-sampe muka lo pengen gue lipet-lipet jadi dodol duren!!”, jawab Kika ketus. Gadis cantik yang berposisi sebagai vokalis the DUKUNs ini memang terkenal ketus dan galak. Ya, walaupun penampilannya feminim dengan rambut panjang terurai lurus dan wajahnya yang oriental, sebenarnya dia jago karate. “Sori, tadi gue nganter nenek-nenek yang kesasar dulu”, bela Diky ngasal. Oh iya, mau tau arti the DUKUNs?? Ini idenya Ucok, dia yang memberi nama band ini. Itu diambil dari inisial masing-masing personilnya. Diky, Ucok, Kika, Usro, Nevi. Sedangkan huruf S berarti jamak, artinya lebih dari satu orang anggota band nya. (Ya iyalah! Kalo sendirian namanya solo!! Bukan Tagal lho!). Dan juga agar nama tersebut mampu memberikan kekuatan magis yang ajaib kepada para personilnya agar memancarkan kharisma tersendiri. Ada-ada aja ya si Ucok ini??
Beberapa lagu telah selesai dibawakan. Kini masuk pada lagu terakhir. Diky yang berposisi sebagai penabuh bedug di mushola, eh, drummer maksudnya memberi aba-aba dengan memutar-mutar stiknya menggunakan jari agar semuanya fokus. Ucok sang gitaris mengangguk penuh arti. Usro sang bassist dan Nevi sang keyboardis saling bertatapan menunggu mulai masuk intro. Suara emas Kika yang merdu dan halus dengan sedikit serak mulai menyanyikan lagu karangan Diky dengan gaya feminimnya yang mempesona siapapun yang melihatnya. Ku hidup tanpa cinta, bagai langit tanpa bintang. Adakah seseorang yang mampu mengusir sepiku.. Langit tanpa bintang, dimana kau menghilang.. Akankah ku temukan sinar yang terang....
Usai latihan, Nevi menggandeng tangan Diky kaluar dari ruang studio diikuti Ucok dan Kika sedangkan usro masih sibuk di dalam membereskan alat-alat. “Ada apa Nev??”, tanya Diky. “Gue baru dapet telpon sebelom latihan tadi dari maminya Vita”, “Ada apa?? Vita udah sembuh ya?? Iya kan?? Bener??”, tebak Diky antusias dengan mata berbinar-binar. Nevi menggeleng, melirik Kika dan Ucok sejenak, kemudian setelah Kika dan Ucok mengangguk penuh arti, Nevipun menatap Diky dalam-dalam. “Vita, pergi Dik..”, ucapan Nevi tertahan. “Kemana?? Pindah rumah sakit??”, tanya Diky polos. Nevi menggeleng, “Vita pergi selamanya, dia udah tenang dan bebas dari beban kehidupan selama ini..”. Diky tercengang mendengar jawaban Nevi. Seluruh tubuhnya terasa lemas dan dingin. Dia tak mengira ini benar-benar terjadi. Gadis cantik dengan senyumnya yang indah dan mempesona. Gadis tabah yang menghadapi segala sakit dan beban dengan senyuman manisnya. Gadis kuat yang tegar dan tak pernah menangis. Gadis yang selalu mensyukuri segala yang ada. Kini, pergi jauh dan takan kembali.. Menghadap sang penciptanya. Diky duduk di atas kap mobil Kika, Kika dan Nevi memeluknya berbarengan untuk menenangkan Diky yang tampak berkaca-kaca. Ucok mengambil kunci motor Diky yang jatuh dari genggamannya. “Gue bawa motor lo Dik, lo bareng anak-anak naek mobil Kika aja”, kata Ucok yang mengerti bahwa kondisi jiwa Diky tak memungkinkan untuk mengendarai skuter itu, kemudian meluncur dengan sukri kesayangan Diky.
“Udah dik, balik yuk.. ”, ajak Kika. “Kita brifing dulu buat manggung minggu depan di rumah Kika”, ujar Nevi pelan. Diky menengadah ke atas menatap langit. Dia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh ke tanah. Usro baru saja selesai membereskan studio treesome , studio ini milik band terkenal bernama RED Blood. Usro memang terkenal akrab dengan para personilnya, jadi dia juga yang lebih bertanggung jawab atas kebersihan dan kerapihan studio. Ya iyalah! Udah dikasih main gratis juga sukur! “Eh Nev, gue kan tadi siang mondar-mandir di sekitar kosan lo. Berharap ketemu cewek cantik yang tempo hari gue liat waktu nganterin nasi goreng ke kosan Diky. Kok gak ada ya? Siapa sih dia namanya??”, ujar Usro tanpa tahu apapun yang sudah terjadi. Diky tak menghiraukan mereka dan langsung masuk ke dalam mobil jazz pink milik Kika. Kika dan Nevi saling berpandangan, kemudan menyusul Diky masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan pertanyaan Usro. Tinggalah Usro celingukan sendiri di parkiran. Bingung. Ada apa dengan teman-temannya?? Tapi karena emank dia bego. Ya udah aja melongo sambil garuk-garuk pantatnya yang burik. Setelah Kika mengagetkannya dengan bunyi klakson ala trompet tahun baru Toooott....!! “Ikut balik gak sro?? Cepet masuk!!”, bentak Kika sadis dari balik kemudinya. Usro pun segera belingsatan dan masuk ke mobil melalui jendela yang terbuka dengan kepala terlebih dahulu, kakinya menyusul dua hari kemudian.
Merekapun lenyap di balik kabut malam kota Bandung. Meninggalkan bekas ban di jalan yang sedikit becek karena hujan. Hujan ini mengisyaratkan hati Diky yang perih, seolah tersayat mendapati kenyataan yang terjadi. Ia masih memikirkan Vita. Wajah dan senyumnya selalu menghiasi imajinasi Diky sepanjang perjalanan. Dering HP milik Kika berbunyi. Kika menjawabnya tanpa melepas kemudi mobilnya. Beberapa saat kemudian Kika menutupnya dan meletakkannya kembali di dashboard mobilnya. “Dari siapa ka?”, tanya Nevi. “Horee.... Tante gue baru aja melahirkan. Kita ke rumah sakit dulu ya!!”, seru Kika kegirangan. Nevi dan Usro senyam senyum ikut bahagia. Sedangkan Diky?? Dia bergumam dalam hati, kenapa meraka tertawa kegirangan mendapati ada bayi yang baru saja lahir? Sedangkan yang dilahirkan malah menangis, seolah tak rela lahir di dunia ini?....
Angin malam kota Bandung meniup perasaan hingga terbang ke awang-awang yang sepi di langit tanpa bintang.. Sesepi hati Diky saat ini....

<to be continued>
Terinspirasi dari seorang anak yang berjuang menghadapi kanker ganas. (Penulis Catatan Kecil Untuk Tuhan).

Rona iswara
18 agustus 2010
Di kamar sumpek dengan segala inspirasi yang muncul saat malam tiba dan insomnia menyapa.

3 komentar:

  1. Ini blog baru lho.. Jadi tolong beri komen ya buat yang udah mampir. Makasih banyak kalo suka sama tulisan gue..! Salam sahabat..

    BalasHapus